Senin, 15 Maret 2010

Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi


PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU
IBU BEKERJA DAN IBU TIDAK BEKERJA TENTANG
IMUNISASI DI DESA KAYUJATI – PANYABUNGAN
KAB. MADINA PADA BULAN OKTOBER - NOVEMBER
TAHUN 2009

D
i
s
u
s
u
n

O L E H :
NAMA : NOVIDA YUSNITA
NIM : 2007041


PRODI DIII KEPERAWATAN STIKES FLORA
M E D A N
2 0 1 0


DAFTAR ISI


DAFTAR ISI i
BAB I PENDAHULUAN ................1
1.1 Latar Belakang .........................1
1.2 Rumusan Masalah ...................2
1.3 Tujuan Penelitian ....................2
1.4 Manfaat Penelitian ..................3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ......4
2.1 Peran Orangtua dalam Imunisasi... 4
2.2 Perilaku Kesehatan ................4
2.2.1 Bentuk Perilaku ...................5
2.2.2 Domain Perilaku Kesehatan ..... 6
2.3 Pengetahuan .............................7
2.4 Sikap ..........................................7
2.5 Praktek atau Tindakan ...........8

BAB III KERANGAKA KONSEP .....10
3.1 Kerangka Konseptual ..................10
3.2 Defenisi Konseptual dan Operasional... 10

BAB IV METODE PENELITIAN ...........11
4.1 Jenis Penelitian ..................................11
4.2 Populasi dan Sampel .........................11
4.3 Lokasi dan Waktu Penelitian ...........13
4.4 Metode Pengumpulan Data .............13
4.5 Defenisi Operasional .........................13
Lembar Persetujuan Menjadi Responden ...15
Lembar Kuesioner........................................16
Daftar Pustaka .............................................17

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG
Imunisasi telah terbukti sebagai salah sau upaya kesehatan yang sangat penting. Program imunisasi telah menunjukkan keberhasilan yang luar biasa dan merupakan usaha yang sangat hemat biaya dalam mencegah menyakit menular. Imunisasi juga telah berhasil menyelamatkan begitu banayak kehidupan dibandingkan dengan upaya kesehatan masyarakat lainnya. Program ini merupakan intervensi kesehatan yang paling efektif yang berhasil meningkatkan angka harapan hidup. Sejak penetapan the expan ded program on immunisation (EPI) oleh WHO, cakupan manusia dasar anak meningkat dari 5% hingga mendekati 80% di seluruh dunia, sekurang-kurangnya ada 2,7 juta kematian akibat campak etanus neonatorum dan pertusis 200.000 kelumpuhan akibat polio yang dapat dicegah setiapa tahunnya. Vaksinasi terhadap 7 penyakit elah direkomendasikan EPI sebagai imunisasi rutin di negara berkembang : BCG, DPTT, POLIO, Campak, dan Hepatitis B.
Banyak anggapan salah tentang imunisasi yang berkembang dalam masyarakat. Banyak pula orangtua dan kalangan praktisi khawatir terhadap resiko dari beberapa vaksin. Adapun media yang masih mempertanyakan manfaat imunisasi serta membesar-besarkan resiko beberapa vaksin. Peneliti devies internet merupakan situs anti vaksinasi. Semua keadaan ini pada akhirnya dapat menyebabkan redahnya angka kecukupan yang ingin dicapai. Pengembangan Program Imunisasi (PPI) di Indonesia yang dimulai pada tahun 1979 (awal pelita III) menghadapi masalah yang sama dengan yang dijumpai diberbagai negara yang didunia yaitu rendahnya angka kecukupan imunisasi yang tingginya angka drop-out kunjungan ulangan.
Menurut penelitian yang dilakukan Gunawan didapatkan bahwa kurangnya peran serta ibu rumah tangga dalam hal ini disebabkan karena kurangnya informasi (60%-75%), kurangnya motivasi (2%-3%) serta hambatan lainnya (23%-37%).
Salah satu tujuan program ini adalah tercapainya cakupa luas dan sebanyak mungkin. Kepercayaa masyarakat terhadap imunisasi harus tetap terjaga. Sebab bila tidak dapat mengakibatkan turunnya cakupan angka imunisasi . perlu ditekankan bahwa pemberian imunisasi pada bayi dan anak tidak hanya memberikan pencegahan terhadap anak tersebut, tetapi akan memberikan dampak yang jauh lebih luas karena akan mencegah terjadinya penularan yang luas dengan adanya peningkatan tingkat imunitas

secara umum dimasyarakat. Oleh karena itu pandangan dan sikap setiap dokter atau orangtua sangat penting untuk dipahati tentang arti imunisasi. Beberapa studi menemukan bahwa usia ibu, ras, pendidikan, dan status soaial ekonomi berhubungan dengan cakupan imunisasi dan opini orangtua terhadap vaksin berhubungan dengan status imunisasi anak mereka.
Peran orangtua dalam program imunisasi sangatlah penting, karenanya suatu pemahaman tentang program ini amat diperlukan untuk kalangan tersebut. Pada masa yang akan datang di Indonesia akan terjadi perubahan dari negara agraris menjadi negara industri . dengan terjadinya peralihan, mengakibatkan banyak tenaga kerja yang kemungkinan tidak akan tertampung di sektor industri sehingga sebagian besar diantaranya akan terjun ke lapangan kerja informasi. Sementara itu, karena adanya perbaikan pendidikan dan perhatian terhadap perempuan menyebkakna semakin meningkatknya tenaga kerja perempuan, baik di sektor formal mapun informal.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis merasa terarik untuk melakukan penelitian yang berujudul “PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU IBU BEKERJA DAN TIDAK BEKERJA TENTANG IMUNISASI DI DES KAYUJATI PANYABUNGAN KAB. MANDAILING NATAL TAHUN 2009.

1.2 PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang perumusan masalah adalah : ‘’ Apakah ada perbedaan pengetahuan, Sikap Dan Prilaku Ibu Rumah Tangga Dan Ibu Bekerja Tentang Imunisasi di Desa Kayujati Kabupaten Mandailing Nata tahun 2009l’’.

1.3 TUJUAN PENELITIAN
Tujuan Umum :
- Untuk mengetahui pengetahuan, sikap dan prilaku ibu rumah tangga dan ibu berkarir tentang infomasi.
- Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan mengenai hal tersebut pada kedua kelompok ini.


1.4 MANFAAT PENELITIAN
- Masukan bagi petugas kesehatan, khususnya perawat dalam melakukan pendidikan kesehatan dengan memberikan penyuluhan mengenai imunisasi.
- Masukan bagi ibu yang bekerja dan ibu rumah tangga yang berhubungan dengan imunisasi
- Masukan bagi peneliti lebih lanjut yang berhubungan dengan imunisasi.


BAB II TINJAUN PUSTAKA

2.1 Peran Orangtua dalam Imunisasi
Peningkatan cakupan imunisasi melalui pendidikan orangtua telah menjadi populer di berbagai negara. Strategi ini ini berasumsi bahwa anak-anak tidak akan di imunisasi secara benar disebabkan orangtua tidak mendapat menjelasan yang baik atau karena memiliki sikap yang buruk tentang imunisasi. Program imunisasi dapat berhasil jika ada usaha yang sungguh-sungguh dan berkesinambungan pada orang-orang yang memiliki pengetahuan yang komitmen yang tinggi terhadap imunisasi.
Jika suatu intervensi prefentif seperti imunisasi ingin dijalankan secara serius dalam menjawab perubahan pola penyakit dan persoalan pada anak dan remaja. Maka perbaikan dalam evaluasi perilaku kesehatan masyarakat sangat diperlukan. Strabino mengatakan bahwa banyak literatur yang berhubungan antara faktor orang tua dengan penggunaan sarana kesehatan baik untuk tindakan pencegahan atau mengeobata penyakit, namun hanya sedikit penelitian yang khusus mencari hubungan antara pengetahuan dan sikap orangtua dengan imunisasi anak.
Cakupan informasi yang rendah merupakan persoalan yang kompleks, bukan hanya kerena fakor biaya, karena ternyata vaksin gratis tidak menjadi jaminan bagi suksesnya imunisasi. Bates mengemukakan hasil penelitian Bacher yang mendapatkan bahwa ibu-ibu yang anakanya jarang diserang penyakit adalah mereka yang lebih sering memamfaatkan sarana-sarana kesehatan pencegahan. Mereka mengaku bahwa dengan memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap sarana pencegahan dan melakukan usaha pencegahan yang teratur. Anak mereka dapat terhindar dari sakit.

2.2. Perilaku Kesehatan
Masalah kesehatan masyarakat, terutama negara-negara berkembang pada dasarnya menyangkut dua aspek utama, yaitu fisik, misalnya tersedianya sarana kesehatan dan peneobatan penyakit dan non-fisik yang menyangkut perilaku kesehatan.
Perilaku manusia merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya. Yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Dengan kata lain, perilaku merupakan respon/reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasl dari luar maupun dari dalam dirinya. Respo ini dapat bersifat pasif (tanpa tindakan berfikir, pendapat, bersikap). Maupun aktif (melakukan tindakan). Perilaku kesehatan dapat dirumuskan sebagai segala bentuk pengalaman dan interaksi individu dengan lingkungannya. Khususnya yang menyangkut pengetahuan, sikap tentang kesehatan, serta tindakan yang dengan hubungan keesehatan.
Becher menuliskan pendapat Kasi dan Cobb yang menyatakan bahwa biasanya orang terlibat dengan medis karena 3 alasan pokok yaitu :
1. Untuk mencegah penyakit atau pemeriksaan kesehatan pada saat gejala penyakit belum di rasakan.
2. Untuk mendapatkan diagnosis penyakit dan tindakan yang diperlukan bila ada gejala penyakit yang dirasakan (perilaku penyakit).
3. Untuk mengobati penyakit tentu telah dipastikan agar sembuh dan sehat seperti sedia kala, atau agar penyakit tidak bertambah parah (peran sakit).

Menurut Atmodjo semua ahli kesehatan masyarakat dalam membicarakan status kesehatan mengacu kepada Bloom dari hasil penelitian di Amerika Serikat sebagai salah satu negara yang maju Bloom mengyimpulkan bahwa lingkungan mempunyai andil yag paling besar terhadap status kesehatan. Kemudian berturut-turut disusul oleh perilaku mempunyai andil yang kecil terhadap status kesehatan. Bagaimana proses pengaruh faktor-faktor tersebut terhdap status kesehatan dinegara berkembang seperti Indonesia belum ada peneltian.
Ahli lain, Laurence Green menjelaskan bahwa perilaku iu dilatar belakangi atau dipengaruhi oleh 3 fakor yaitu :
- Faktor-faktor Predisposist (Predisposing Factors).
- Faktor-faktor yang mendukung (Enabling Factors)
- Faktor-faktor yang memperkuat atau mendorong (rein foccing factors).

Oleh sebab itu, pendidikan kesehatan sebagai faktor usaha intervensi perilaku harus diarahkan kepada ketiga faktor tersebut.

2.2.1. Bentuk Perilaku
Secara operasional perilaku dapat diartikan sebagai respon organisme atau seorang terhadap rangsangan (stimulus) dari luar subjek tersebut. Respon ini berentuk 2 macam yaitu :
a. Bentuk Pasif adalah respon interval yaitu yang terjadi di dalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain, misalnya berfikir, tanggapan atau sikap lain dan pengetahuan misalnya seorang ibu tahu bahwa imunisasi itu dapat menegah satu penyakit tertentu meskipun ibu tersebut tidak membawa puskesmas untuk di imunisasi. Contoh lain adalah seorang yang menganjurkan orang lain untuk mengikuti keluarga berencana dari ke 2 contoh tersebut terlihat bahwa ibu telah tahu gunanya. Imunisasi, dan contoh kedua orang tersebut telah mempunyai sikap yang positif untuk mendukung keluarga berencana. Meskipun mereka sendiri belum melakukan secara konkret terhadap kedua hal itu. Oleh sebab itu, perilaku mereka ini masih terselubung (konkret behavior).
b. Bentuk aktif adalah apabila perilaku itu jelas dapat diobservasi secara langsung. Misalnya, pada kedua contoh itu, si ibu sudah membawa anaknya ke puskesmas dan fasilitas kesehatan lain untuk imunisasi dan orang paa kasus kedua sudah ikut Keluarga Berencana (KB) dalam arti sudah menjadi akseptor KB. Oleh karena perilaku mereka ini sudah ampak dalam bentuk tindakan nyata maka disebut “Over behivior”.

2.2.2. Domain Perilaku Kesehatan
Noto Admodjo berpendapat bahwa Perilaku manusia itu sangat kompleks dan mempunyai ruang lingkung yang sangat luas. Benyamin Bloom seorang ahli psikologi pendidikan membagi perilaku itu kedalam 3 domain (Ranah, kawasan). Meskipun kawasan-kawasan tersebut tidak mempunyai batas yang jelas dan tegas. Pembagian keluasan ini dilakukan untuk kepentingan tujuan pendidikan. Bahwa dalam tujuan satu pendidikan adalah mengembangkan atau meningkatkan domain perilaku tersebut. Yang terdiri dari :
a. Pengetahuan peserta didik terhadap materi pendidikan yang diberikan. (Know ledge).
b. Sikap atau tanggapan peserta didik terhadap materi pendidikan yang diberikan (attitude).
c. Praktek atau tindakan yang dilakukan oleh peserta didik sehubungan dengan materi pendidikan yang diberikan (practice).

Terbentuknya suatu perilaku baru, terutama pada orang dewasa, dimulai pada domain kognitif dalam arti subjek materi atau objek di luarnya sehingga menimulkan pengetahuan baru pada subjek tersebut, selanjutnya menimbulkan respon lain dalam bentuk sikap disubjek terhadap objek yang diketahui.
Rangsangan yaitu objek telah diketahui dan didasari sepenuhnya. Akan menimbulkan respon lebih jauh lagi yaitu berupa tindakan (action) terhadap atau sehubungan dengan stimulus atau objek tadi. Namun demikian, didalam kenyataan stimulus yang diterima subjek dapat langsung menimulkan tindakan. Artinya seseorang dapat bertindak atau berperilaku baru tanpa mengetahui terlebih dahulu makna stimulus yang diterimanya dengan kata lain tindakan (practice). Seseorang tidak harus didasari oleh pengetahuan atau sikap.

2.3. Pengetahun (Knowledge).
Pengetahuan merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindaran terhadap suatu objek tertentu. Pengindaran terjdi melalui panca indra manusia. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (over behavior).
Noto Admodjo mengungkapkan pendapat rogres bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru) didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan yaitu :
1. Awarenes (Kesadaran). Dimana orang tersebut mengadiri dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).
2. Interest (Merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut. Disini sikap subjektif sudah mulai terbentuk.
3. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya stmulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.
4. Trial, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan apa yang dikehendaki oleh stimulus.
5. Adaption, dimana subjek telah berperilaku sesuai dengan pengetahuan kesadaran dan sikap terhadap stimulus.

2.4. Sikap (Aftitude).
Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek dari berbagai batasan tentang sikap dapat disimpulkan bahwa manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat tapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari sikap terdahulu.
Newcomb salah seorang psikologi sosial menyatakan bahwa sikap merupakan kesediaaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksaan motif tertentu. Sikap belum merupakan satu tindakan atau aktifitas, akan tetapi merupakan redisposisi tindakan atau perilaku.
Dalam bagian alkord, menurut NotoAdmodjo menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen pokok, yaitu :
1. Kepercayaan, (Keyakinan, ide dan konsep terhadaop suatu objek).
2. Kehidupan Emosional atau Evaluasi Emosional suatu objek
3. Kecenderungan untuk bertindak.

Sikap terdiri dari dari berbagai tindakan yaitu :
a. Menerima (receiving). Subjek mau dan memperhatikan stimulus yang di berikan objek.
b. Merespon (resconding). Menerima jawaban apabila ditanya serta mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan. Lepas jawaban dan pekerjaan yang benar dan salah adalah berarti orang menerima ide tersebut.
c. Menghargai (Valuing). Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan terhadap suatu masalah.
d. Bertanggung jawab (responsible). Bertanggungjawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya merupakan tingkat sikap yang paling tinggi.
Pengetahuan sikap dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secaa langsung dapat dinyatakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap suatu objek. Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pernyataan-pernyataan hipotesis, kemudian ditanyakan pendapat responden (sangat setuju, setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju).
2.5. Praktek Atau Tindakan (Prautice)
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalan satu tindakan (over behavior). Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan antara lain : Fasilitas, Sikap ibu yang sudah positif terhadap imunisasi harus mendapat konfirmasi dari suaminya dan fasilitas imunisasi yang mudah dicapai, agar ibu tersebut dapat mengmunisasikan anaknya.
Tingkat-tingkat Praktek sebagai berikut :
1. Persepsi :
Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang diambil.
2. Respon Terpimpin.
Dapat melakukan suatu dengan urutan yang benar sesuai dengan contoh.
3. Mekanisme
Apabila seorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis atau ide sudah merupakan suatu kebiasaan, maka ia sudah mencapai prakek tingkat 3.
4. Adaptasi
Merupakan paktek yang sudah berkembang dengan baik. Artinya tindakan itu sudah modifiksikannya sendiri tanpa mengurangi kebenaran tindakannya.

Pengukuran prilaku dapat dilakukan secara tidak langsung yakni dengan wawancara terhadap kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari atau bulan yang lalu. Pengukuran langsung dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden.

BAB III
KERANGKA KONSEP

3.1. Kerangka Konseptual
Adapun kerangka konsep dalam penelitian ini adalah pengetahuan sikap dan perilaku ibu bekerja dan ibu tidak bekerja tentang imunisasi di desa Kayujati Kab. Mandailing Natal tahun 2009.


3.2 Defenisi Konseptual dan Operasional
3.2.1. Ibu Bekerja / Berkarir
Adalah ibu-ibu yang melakukan aktifitas ekonomi mencari penghasilan baik di sektor formal maupun informal yang dilakukan secara regular diluar rumah.
3.2.2. Ibu Rumah Tangga.
Adalah ibu yang tidak melakukan pekerjaan mencari penghasilan dan hanya menjalankan fungsi sebagai ibu rumah tangga.
3.2. Hipotesa
Hipotesa alternatif dalam penelitian ini adalah pengetahuan sikap dan perilaku ibu berkarir dan ibu rumah tangga tentang imunisasi.

BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah deskriktif yaitu menggambarkan pengetahuan sikap dan perilaku ibu bekerja dan ibu rumah tangga di Kayujati.

4.2. Polulasi dan Sampel
4.2.1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang berkarir / bekerja dn ibu rumah tangga di desa kayujati tahun 2009 melalui studi pendahuluan didapatkan data bahwa ibu yang berkarir dan ibu rumah tangga selama 2 bulan terakhir sekitar 50 orang.

Karena jumlah populasi kurang dari 10.000 orang maka jumlah sampel ditemukan dengan rumus-rumus sebagai berikut (Noto Admodjo. 2002) :


Keterangan :

N : Besar Populasi
n : Besar Sampel
d : Tingkat Kepercayaan, Ketepatan yang diinginkan jadi rencana jumlah sampel yang akan diambil :

= 44 orang

4.2.2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh populasi yaitu sebanyak 44 orang responden. Tekhnik pengambilan sampel dilakukan secara random sampling yaitu pengambilan secara acak sederhana.

4.3. Lokasi dan Waktu Penelitian
4.3.1. Lokasi
Penelitian ini dilakukan di desa Kayujati Kabupaten Mandailing Natal priode Oktober – November 2009.
4.3.2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di desa Kayujati mulai dari bula Oktober – November 2009.

4.4. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner yang disebarkan kepada masing-masing responden, dimana kuesioner terlebih dahulu diuji coba.

4.5 Defenisi Operasional
4.5.1. Ibu Berkarir
Adalah ibu yang melakukan aktifitas ekonomi mencari penghasilan baik disektor formal maupun disektor informal yang dilakukan secara reguler diluar rumah.
4.5.2 Ibu Tidak Bekerja/Ibu Rumah Tangga
Adalah ibu yang tidak melakukan pekerjaan mencari penghasilan hanya menjalankan fungsi sebagai ibu rumah tangga saja.
4.5.3 Tingkat Pendidikan Ibu
Adalah jenjang pendidikan formal yang pernah diikuti oleh ibu :
- Pendidikan Rendah = SD dan SLTP
- Pendidikan Sedang = SLTA
- Pendidikan Tinggi = PT / Akdemik

4.5.4 Usia
Adalah umur ibu saat wawancara pengisian kuesioner berlangsung.
4.5.5 Pengetahuan
Yaitu pengetahuan tentang pengertian imunisasi, manfaat imunisasi, nama-nama vaksin, jarak pemberian imunisasi, jumlah pemberian polio, tempat imunisasi, penyakit yang ingin dicegah, efek samping imunisasi, imunisasi simultan dan imunisasi ulangan.
Kategori :
1. Buruk (menjawab <> 5 dari 10 pertanyaan).

4.5.6 Sikap
Yaitu setuju tidaknya ibu mencari informasi tentang imunisasi sebagai tugas orangtua. Setuju tidaknya ibu bahwa imunisasi program sangat penting. Penyakit yang ingin dicegah adalah serius dan berbahaya tetap memberikan imunisasi meski terjadi reaksi yang merugikan, imunisasi hanya untuk mensukseskan program pemerintah serta setuju tidaknya ibu dalam pemberian vaksin secara bersamaan/simultan.

Kategori :
1. Buruk (menjawab ya < style="text-align: center;">
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN


Kepada Yth, Ibu Bekerja dan Ibu Tidak Bekerja
Di desa Kayujati
Panyabungan

Sebagai persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan Diploma III Keperawatan Flora Medan, saya akan melakukan penelitian mengenai pengetahuan, sikap dan perilaku Ibu Bekerja dan Ibu Tidak Bekerja tentang Imunisasi di des Kayujati Panyabungan.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan, sikap dan perilaku Ibu Bekerja dan Ibu Tidak Bekerja tentang Imunisasi, saya mohon kesediaannya untuk mengisi kuesioner yang saya ajukan degan jujur dan apa adanya.

Demikian lembar persetujuan ini saya buat, atas persetujuan dan partisipasinya saya ucapkan terima kasih.


Medan,
Responden Peneliti,



LEMBAR KUESIONER
PENGETAHUAN SIKAP, DAN PERILAKU IBU BEKERJA DAN IBU TIDAK BEKERJA TENTANG IMUNISASI

1. IDENTITAS RESPONDEN
Isilah indentitas dibawah ini dan beri tanda ceklist (√) pada jawaban yang menurut anda benar .
Nama Reseponden
Umur : 20 – 25 thn
26 – 30 thn
31 – 35 thn
36 – 40 thn

Pendidikan : SD
SLTP
SLTA
Perguruan Tinggi

Pekerjaan : PNS
Pekerja Swasta
IRT
Petani
Buruh

Sumber Informasi : TV
Radio
Majalah
Petugas Kesehatan
Surat Kesehatan

DAFTAR PUSTAKA

Anderson P. Another Media Scare About MMB Vaccie Hits Britain BMJ 1999 : 1578

Lubis, 12, Miller CL, Lewis K, Brokcet J, Jacobsen V, Cherry JD, Itfluence of paretal Knowledge, AJDC, 1988 : 142 : 283 – 6

Masjkury , MM, Ibu – ibu yang tidak tahu tentang Imunisasi : Ciri-ciri dan Kegiatannya yang dapat dipakai sebagai sarana pembinaan informasi Medika 1985 ; 9 : 842 – 4


LEMBAR KUESIONER


1. Imunisasi adalah …………
a. Usaha yang sangat hemat biaya dalam mencegah penyakit menular
b. Pencegahan penyakit
c. Meningkatkan angka harapan hidup

2. Penyebab kurangya peran ibu rumah tangga dalam imunisasi disebabkan oleh …
a. Kurang motivasi, informasi dan hambatan lainnya
b. Kurang pengetahuan
c. Kurang percaya

3. Tujuan program Imunisasi adalah ……….
a. Kepercayaan masyarka terhadap program imunisasi harus tetap terjaga
b. Tercapainya cakupan seluas dan sebanyak mungkin
c. Memberikan dampak yang lebih luas

4. Pengembangan Program Imunisasi (PPI) di Indonesia dilaksanakan mulai tahun ……
a. 1978
b. 1979
c. 1999

5. Berapa vaksinasi yang telah direkomendasikan oleh WHO ……..
a. 5
b. 6
c. 7

6. Tujuan Imunisasi……..
a. Mengobati Penyakit
b. Mengurangi Penyakit
c. Mencegah Penyakit

7. Reaksi samping Imunisasi ………
a. Demam
b. Mencret
c. A dan b Benar

8. Imunisasi yang diberikan pada usia Sekolah Dasar adalah ………
a. Polio
b. DPT
c. BCG

9. Yang merupakan salah satu upaya kesehatan masyarakat yang sangat penting…….
a. Imunisasi
b. Posyandu
c. Pengobatan

10. Peran seorang guru pada Program Imunisasi adalah ………
a. Pemahaman tentang program imunisasi
b. Pengetehuan
c. Pengertian

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar